Minggu, 12 Juni 2011

MAKALAH BELAJAR PEMBELAJARAN


PEMBELAJARAN BERBASIS KETERAMPILAN PROSES

Fisika merupakan bagian dari sains tentang dunia fisik seperti kimia,  geologi,  dan astronomi.  Tidak hanya bagian dari sains dunia fisik,  fisika juga merupakan pengetahuan dasar sains yang diperoleh dan dikembangkan dengan berlandaskan pada serangkaian penelitian yang dilakukan oleh para saintis dalam mencari jawaban tentang berbaga gejala alam serta penerapannya dalam teknologi dan kehidupan sehari-hari.  Oleh karena fisika merupakan ilmu yang diperoleh dengan serangkaian penelitian maka seyogyanya dalam proses pembelajaran,  fisika dipandang sebagai proses, bukan produk.

Pembelajaran fisika sebagai suatu proses berarti bahwa siswa tidak hanya diberikan tentang prinsip/ konsep dari suatu materi,  lebih kepada bagaimana proses dalam menemukan prinsip atau konsep itu.  Nah,  salah satu alternatif pendekatan dalam pembelajaran fisika yaitu menggunakan pendekatan keterampilan proses.  Mengenai pengertian pendekatan keterampilan proses,  Kurniati (2001: 11) mengungkapkan bahwa pendekatan keterampilan proses adalah pendekatan yang memberi kesempatan kepada siswa agar dapat menemukan fakta, membangun konsep-konsep, melalui kegiatan dan atau pengalaman-pengalaman seperti ilmuwan
Selain itu,  Arikunto (2004 :33) memberi penjelasan mengenai pendekatan keterampilan proses, yaitu bahwa:
Pendekataan berbasis keterampilan proses adalah wawasan atau anutan  pengembangan keterampilan-keterampilan intelektual, sosial dan fisik yang bersumber dari kemampuan-kemampuan mendasar yang pada prinsipnya  keterampilan-keterampilan intelektual tersebut telah ada pada siswa.

Dari kedua pengertian diatas,  dapat disimpulkan bahwa pendekatan keterampilan proses adalah pendekatan pembelajaran untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan intelektual, sosial dan fisik siswa dengan melakukan kegiatan belajar secara langsung dalam menemukan fakta dan konsep.

Penerapan pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran akan dapat mengembangkan kemampuan berpikir anak.  Anak akan aktif dalam menggunakan pikirannya untuk menemukan berbagai konsep atau prinsip dari suatu materi.  Seperti yang dikemukakan oleh Bruner (Hendrik, 2000: 14) bahwa dalam pengajaran dengan pendekatan keterampilan proses penemuan anak akan menggunakan pikirannya untuk melakukan berbagai konsep atau prinsip.

Keterampilan proses merupakan asimilasi dari berbagai keterampilan intelektual yang dapat diterapkan pada proses pembelajaran. Piaget (Duherti, 2000:13) mengemukakan bahwa kemampuan berpikir anak akan berkembang bila dikomunikasikan secara jelas dan cermat yang dapat disajikan berupa grafik, diagram, tabel, gambar atau bahasa isyarat lainnya.

Menurut Tim Action Research Buletin Pelangi Pendidikan (1999 : 35),  keterampilan proses terbagi menjadi dua macam yaitu keterampilan proses dasar, dan keterampilan proses terpadu.  Masing-masing keterampilan tersebut terdiri dari beberapa aspek.
Keterampilan dalam keterampilan proses dibagi menjadi dua, yaitu :  (1)  Keterampilan proses tingkat dasar (Basic Science Proses Skill) meliputi observasi, klasifikasi, komunikasi, pengukuran, prediksi, dan inferensi.  (2)  Keterampilan proses terpadu (Intergated Science Proses Skill) meliputi menentukan variabel, menyusun tabel data, menyusun grafik, memberikan hubungan antar variabel, menyusun hipotesis, memproses data, dan menganalisis penyelidikan.  Semua keterampilan tersebut dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa.

Jadi Tim Action Buletin Pelangi Pendidikan membagi keterampilan proses ke dalam dua jenis.  Keterampilan-keterampilan itulah yang akan dimiliki oleh siswa apabila dalam pembelajarannya diterapkan pendekatan keterampilan proses.  Lain halnya dengan Reviandi, Reviandi tidak membagi-bagi keterampilan seperti pada pendapat di atas.  Penerapan pendekatan keterampilan proses menurut Reviandi akan memberikan siswa berbagai macam keterampilan dalam pembelajaran seperti yang dijelaskan berikut ini.
Keterampilan-keterampilan yang di dapat dalam pembelajaran berbasis keterampilan proses, yaitu :
Mengamati, yaitu keterampilan mengumpulkan data atau informasi melalui penerapan dengan indera berdasarkan  kegiatan yang dilakukan.
Menafsirkan yaitu keterampilan untuk menganalogikan suatu eksperimen dengan konsep yang ada.
Mendiskusikan, yaitu keterampilan untuk dapat bekerjasama tim untuk membahas permasalahan.
Menganalisis, yaitu kemampuan untuk dapat menganalisis permasalahan berdasarkan keterampilan mengamati yang telah dilakukan.
Menyimpulkan hasil penelitian, yaitu keterampilan untuk mengambil suatu kesimpulan dari serangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan setelah dilakukan analisis dan diskusi.
Menerapkan, yaitu mengaplikasikan hasil belajar berupa informasi, kesimpulan, konsep, hukum, teori, dan keterampilan.
Mengkomunikasikan, yaitu menyampaikan perolehan atau hasil belajar kepada orang lain dalam bentuk tulisan, gambar, gerak, tindakan, atau penampilan.

Walaupun pembagiannya berbeda,  sebenarnya esensinya sama saja bahwa dengan menerapkan pendekatan proses dalam proses pembelajaran di kelas akan mengasah berbagai macam keterampilan siswa yang sangat berguna apabila siswa melakukan penelitian/ penyelidikan secara ilmiah.
Adapun untuk pelaksanaan di dalam kelas,  pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses dirancang dengan beberapa tahapan.  Dengan beberapa tahapan-tahapan itu,  diharapkan akan meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.  Tahapan-tahapan pembelajaran berbasis keterampilan proses menurut Dimyati dan Mudjiono ( 1999 : 49)
Pendekatan pembelajaran ini dirancang dengan tahapan: penampilan fenomena, apersepsi, dan menghubungkan pembelajaran dengan pengetahuan awal yang dimiliki siswa.  Setelah itu, pembelajaran dilanjutkan dengan demonstrasi atau eksperimen, kemudian siswa mengisi LKS, hal itu dimaksudkan untuk memunculkan dampak siswa lebih aktif dan mengacu pada indikator keberhasilan pembelajaran.  Terakhir, guru memberikan penguatan materi dan penanaman konsep dengan tetap mengacu kepada teori permasalahan.

Sesuai dengan pendapat dari Dimyati di atas,  tahapan-tahapan dalam pendekatan proses bisa dibagi menjadi tiga kegiatan.  kegiatan pendahuluan (pemberian motivasi,  apersepsi,  dan penyajian fenomena),  kegiatan inti (demonstrasi/ eksperimen),  dan kegiatan akhir (penguatan materi dan penanaman konsep).

Aktivitas Belajar

Proses pembelajaran yang dilakukan guru hendaknya melakukan proses pembelajaran yang melibatkan siswa.  Siswa aktif untuk dapat mengetahui penerapan konsep, memahami kaidah, dan prinsip disiplin ilmu yang dipelajari.  Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Sardiman (2005: 95) bahwa belajar adalah berbuat dan sekaligus proses yang membuat anak didik menjadi aktif.  Jadi dalam pembelajaran,  siswalah yang mendominasi aktivitas proses pembelajaran sedangkan guru hanya memberikan acuan atau arahan kepada siswa atau sebagai fasilitator.

Pendapat di atas juga didukung oleh Sanjaya (2007: 132) yang menyatakan bahwa belajar adalah berbuat,  memperoleh pengalaman tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan.  Sedangkan aktivitas tidak terbatas pada aktivitas fisik saja,  tetapi juga meliputi aktivitas yang bersifat psikis seperti aktivitas mental.

Penguatan mengenai aktivitas fisik juga didukung oleh Ahmadi dan Rohani (1995: 6) yang menyatakan bahwa  aktivitas fisik ialah peserta didik giat aktif dengan anggota badan dan aktivitas psikis (kejiwaan) ialah jika daya jiwanya bekerja sebanyak-banyaknya atau banyak berfungsi dalam rangka pengajaran.
Aktivitas belajar meliputi aktivitas yang bersifat fisik maupun mental.  Hal ini berarti bahwa dalam kegiatan belajar kedua aktivitas itu harus selalu berkait dalam diri siswa.  Aktivitas siswa sangat penting agar hasil belajar yang diperoleh siswa optimal, karena aktivitas siswa sangat menentukan hasil belajar siswa untuk meningkatkan pencapaian hasil kompetensi belajar siswa.

Kegiatan-kegiatan belajar yang berhubungan dengan aktivitas siswa dikemukakan oleh Dierich dalam Hamalik membagi kegiatan belajar dalam kelompok aktivitas, ialah:
a) visual activities        : membaca dan mengamati demonstrasi. 
b) oral activities           : mengajukan pertanyaan dan mengemukakan pendapat.
c) listening activities    : mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok.
d) writing activities     : mengerjakan tes,… 
f) motor activities        : melakukan percobaan….

Pengelompokan aktivitas oleh Dierich, menjelaskan tentang kegiatan yang memungkinkan siswa menjadi aktif, misalnya kegiatan visual yaitu membaca dan mengamati demonstrasi; kegiatan lisan (oral) yaitu mengajukan pertanyaan dan mengemukakan pendapat; kegiatan mendengarkan (listening), misalnya mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok; kegiatan menulis (writing) misalnya mengerjakan tes; dan kegiatan metrik (motor) yaitu melakukan percobaan.

Menurut Benyamin Bloom  dalam Sudjana (2002: 22):
Ranah psikomotoris berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak.  Ada enam aspek ranah psikmotoris yaitu gerakan refleks, gerakan kemampuan (abilities), kemampuan berpendapat (perseptual abilities), komunikasi (communications).

Berdasarkan pendapat Benyamin Bloom dan berdasarkan pengelompokkan aktivitas oleh Derich, maka peneliti beranggapan bahwa aktivitas belajar siswa merupakan hasil belajar ranah psikomotor.

Siswa  dikatakan aktif jika dia melakukan kegiatan-kegiatan pembelajaran
yang relevan dengan materi pelajaran yang disampaikan.  Aspek aktivitas belajar siswa yang diamati antara lain peran serta siswa dalam pembelajaran, mengerjakan LKK, bekerjasama dengan teman sekelompok, keaktifan siswa dalam diskusi, dan partisipasi siswa dalam demonstrasi/eksperimen.  Untuk mengetahui tingkat keaktifan siswa dalam pembelajaran siklus belajar dengan pendekatan kooperatif digunakan pedoman menurut Memes (2001: 36),  bila nilai aktivitas siswa ≥ 75,6 maka dikategorikan aktif,  apabila bila 59,4 ≤ nilai aktivitas ≤ 75,6 maka dikategorikan cukup aktif,  dan apabila nilai aktivitas < 59,4 maka dikategorikan kurang aktif.







Hasil Belajar

Pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses akan membuat siswa dapat memahami dan menganalisis suatu ilmu pengetahuan sendiri dengan lebih baik.  Hal tersebut sesuai dengan pendapat Gagne (dalam Dimyati dan Mudjiono, 1999 : 49)
Pembelajaran dengan keterampilan proses, seseorang akan mampu mengartikan dan menganalisis ilmu pengetahuan yang dilambangkan dengan kata-kata menjadi suatu buah pikiran. Setelah belajar seseorang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai.  Hasil dari rangkaian kegiatan kompleks adalah kapabilitas.  Timbulnya kapabilitas tersebut dari : (1)  Stimulasi yang berasal dari lingkungan. (2)  Proses kognitif yang dilakukan oleh pebelajar

Untuk mengetahui keberhasilan dalam belajar diperlukan adanya suatu pengukuran hasil belajar yaitu melalui suatu evaluasi atau tes dan dinyatakan dalam bentuk angka.  Hasil belajar yang dapat diukur ada tiga macam atau ranah.  Ranah kognitif,  ranah afektif,  dan ranah psikomotor.  Bloom dalam Sardiman (1991: 49) menjelaskan bahwa
Ada tiga ranah yang harus menjadi sasaran dalam evaluasi belajar, yaitu :
Ranah kognitif, yang mencakup kegiatan mental (otak).  Ada enam jenjang dalam proses berfikir diantaranya pengetahuan, pemahaman,  penerapan, analisis, sintesis dan penilaian.
Ranah afektif, yang berkaitan dengan sikap dan nilai.  Ada lima  jenjang dalam ranah afektif diantaranya menerima/memperhatikan,  menanngapi, menilai/menghargai, mengatur/mengorganisasi, karakterisasi dengan suatu nilai atau kompleks nilai.
Ranah psikomotorik, yang berkairtan dengan keterampilan/skill. Ranah psikomotorik lebih berorientasi pada gerakan dan menekankan pada reaksi-reaksi fisik.

Pada penelitian ini,  hasil belajar siswa yang dinilai adalah ranah kognitif yaitu untuk mengukur proses berpikir siswa yang meliputi pengetahuan,  pemahaman,  penerapan,  analisis,  sintesis,  dan penilaian.
Kerangka Pemikiran

Pembelajaran fisika akan lebih mudah dipahami saat pembelajaran itu dilakukan dengan melakukan kegiatan belajar secara nyata sehingga peserta didik akan mendapatkan pengalaman belajar secara langsung.  Dengan melakukan kegiatan langsung,  siswa akan diberi kesempatan untuk menemukan konsep, fakta, atau prinsip melalui dirinya sendiri.  Pembelajaran yang demikian akan lebih bermakna daripada hanya sekadar menghapalkan suatu konsep atau prinsip.  Salah satu pendekatan pembelajaran yang dapat diterapkan agar pembelajaran menjadi lebih bermakna dan mudah dapat diingat oleh peserta didik adalah pendekatan keterampilan proses.  Pendekatan keterampilan proses merupakan pendekatan pembelajaran yang memungkinkan untuk menumbuhkan berbagai keterampilan siswa.

Penerapan pendekatan keterampilan proses akan berdampak pada peningkatan aktivitas siswa.  Hal tersebut dikarenakan dalam kegiatan pembelajaran ini siswa diberi kebebasan mengeksplorasi kemampuan fisik dan mentalnya secara maksimal dan didukung oleh sistem penilaian yang tidak hanya beracuan pada hasil tes saja melainkan beracuan juga pada hasil data aktivitas yang dilakukan siswa selama pembelajaran.

Pendekatan keterampilan proses menuntut siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran, berpartisipasi aktif dalam bereksperimen, aktif dalam berdiskusi, dan bekerja sama dengan teman satu kelompok misalnya dalam mengerjakan LKS.  Dengan mengerjakan LKS dengan sistematis sesuai instruksi maka siswa dapat membuat rumusan-rumusan teori berdasarkan eksperimen yang mereka laksanakan.  Hal tersebut dikarenakan LKS telah dirancang dengan step-step yang menuntun siswa untuk menemukan suatu teori sesuai eksperimen.

Peningkatan aktivitas dalam pendekatan keterampilan proses akan berdampak pada peningkatan hasil belajar siswa khususnya ranah kognitif.  Dengan melakukan eksperimen maka siswa akan mendapat pengalaman yang dialami secara nyata.  Pengalaman-pengalaman tersebut akan mudah diingat dan daya ingat siswa akan lebih lama dibandingkan bila siswa hanya membaca buku atau mencatat saja.

Daya ingat siswa tersebut sangat berharga sebagai modal pengetahuan siswa dan tentunya akan berdampak pada peningkatan hasil belajar siswa.  Akhirnya,  pembelajaran yang dirilis dengan pendekatan keterampilan proses akan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA Fisika siswa.


Hipotesis Tindakan

Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah dengan menerapkan pendekatan keterampilan proses pada materi suhu,  pengukuran,  dan zat dan wujudnya akan meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA fisika siswa.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar